id

Di Sans Kafe, Kehidupan Dimulai dari Segelas Kopi

By  Mei 23, 2017 | 13:24
FOTO: Banten Hits/ Darussalam J.S

 

Butiran air gerimis yang jatuh dari ujung kanopi kaca bertiang kayu terdengar ritmis. Siang itu suasana Tangerang mendadak seperti Bandung atau Bogor. Setidaknya, kesan itulah yang pertama kali dapat ditangkap ketika berkunjung ke Sans Kafe yang berlokasi di Komplek Villa Ilhami, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

Hujan belum reda, kopi gayo panas tersaji di meja kayu. Aromanya sedikit berbeda dengan kopi gayo pada umumnya. Tak hanya itu, kopi gayo di Sans Kafe disajikan menggunakan jar dengan gelas sloki. Untuk melengkapi sajian kopi gayo, ada juga segelas es air putih.

"Es air putih fungsinya sebagai penawar kalau mulut sudah terlalu asem mencecap kopi," kata Dani Febrianto (37), pengelola Sans Kafe kepada Banten Hits. Penyajian kopi gayo ala Sans Kafe memang baru pertami kali kami temui.

"Di sini kopi gayo kami sajikan menggunakan V 60," lanjut Dani.

V 60 yang dimaksud Dani adalah sebuah proses pembuatan kopi yang mirip dengan penyulingan, sehingga kopi yang disajikan bebas dari ampas.  

"Yang tersaji benar-benar hanya sari kopinya saja," jelas Dani.

Selain kopi gayo, di Sans Kafe juga terdapat kopi-kopi daerah lainnya, seperti dari Toraja, Bali, Flores, Java, Singgalang, dan Ijen. 

Selain cara pembuatan kopinya yang unik, sosok sang pengelola Sans Kafe juga menarik. Pria berambut gondrong ini ternyata sudah melanglang buana di dunia kopi. Dani merupakan mantan konsultan kopi yang pernah bekerja di sejumlah negara, di antaranya Jerman, Taiwan, Australia, Brazil, dan Italia.

Indonesia saat ini, jelas pria yang pernah aktif di Specialty Coffee Association of America (SCAA), berada pada peringkat ke tiga negara penghasil kopi terbesar. Namun, sebetulnya beberapa negara seperti Kamboja dan Etiophia sudah mengakui Indonesia sebetulnya negara penghasil kopi terbesar nomor satu di dunia.

"Ironisnya, di Indonesia sendiri kopi masih dipandang sebelah mata. Bahkan, di daerah-daerah penghasil kopi di Indonesia, minat bertani kopi hanya digeluti wanita-wanita lanjut usia," terangnya.

"Tak hanya itu, kopi di Indonesia masih diidentikkan dengan mitos susah tidur atau perut kembung jika mengonsumsinya. Padahal di luar negeri, orangtua menjadikan kopi sebagai asupan utama untuk anaknya karena kopi dipercaya bisa meningkatkan kerja otak," sambungnya.

Selain masih minimnya intervensi pemerintah terhadap produksi kopi di Indonesia, Dani juga menceritakan pengalaman, bagaimana praktik-praktif curang dan koruptif terjadi di dunia kopi. Karenanya, Dani bersama sejumlah temannya berkomitmen untuk turut memperbaiki kehidupan petani kopi di tanah air.

"Saat ini, pebisnis kopi hanya memerhatikan kopi di wilayah hilirnya saja. Kami berupaya untuk memerhatikan kopi mulai dari hulu. Bagaimana petani bisa sejahtera dan turut menikmati hasil yang besar dari produksi kopi. Selama ini mereka hanya dikuasai tengkulak," ungkapnya.

Hujan siang itu tinggal menyisakan basah. Berawal dari segelas kopi yang kami nikmati di Sans Kafe, muncul cerita-cerita inspiratif dari dunia kopi di Tanah Air. Kami seperti memasuki kehidupan baru, kehidupan yang dimulai dari secangkir kopi.... 

 

Darussalam J. S

Memulai karir jurnalistik pada tahun 2003 di harian Fajar Banten (sekarang Kabar Banten, grup Pikiran Rakyat). Pernah bekerja di Global TV selama 2005-2013 dan di Info TV selama setahun. Darussalam juga pernah menerbitkan buku jurnalistik berjudul, "Korupsi Kebebasan, Kebebasan Terkorupsi". Kemudian dia mendirikan situs berita Banten Hits, 11 Februari 2013.