id

DSP Banten Tampil Memukau dengan Tari Kontemporer di Festival Surosowan

By  Nov 12, 2017 | 09:11
Penampilan Tari Surosowan dari Duta Seni Pelajar Banten.(Banten Hits/ Yogi Triandono)

Festival Keraton Surosowan 2017 digelar 9-12 November 2017. Beragam penampilan seni dan budaya ditampilkan dalam hajat bertajuk "Revitalisasi Kawasan Kesultanan Banten" ini. Salah satunya adalah tari kontemporer Surosowan yang dibawakan para pelajar yang tergabung dalam Duta Seni Pelajar (DSP) Banten.

Para duta seni pelajar di Banten ini tampil memukau. Narasi sejarah yang dibangun dalam tarian ini, mampu diterjemahkan dalam gerak tari yang apik dan energik.  

Karangantu, yang merupakan pelabuhan ternama di Banten, menjadi latar tarian. Ditampilkan dengan penggabungan antara tarian tradisional dan drama kolosal, tari Surosowan ini membuat kita melihat sekilas bagaimana perjuangan Sultan Hasanudin mempertahankan pelabuhan yang dijadikan pusat perdagangan di Banten pada masa lalu. 

Sang penata tari, Ronald Ramdan menuturkan, Pelabuhan Karangantu sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan dari luar menuju Banten dan sebaliknya. Menggunakan alur mundur, tarian kolosal ini diawali dengan terbentuknya nama Karangantu. 

"Jadi para pedagang dari China saat sedang membawa guci, kapal yang ditumpangi terbentur karang hingga gucinya itu pecah dan keluar hantu, maka orang-orang mulai menyebutnya karangantu," ujarnya. 

Ronald menyebut, tari yang dimainkan oleh 19 orang yang terdiri dari penari dan pemusik itu juga menceritakan perjuangan bangsa pendahulu untuk mempertahankan wilayah sekitar pelabuhan dari ancaman penjajah. Di tangan tokoh Banten bernama Sultan Hasanudin, VOC dapat ditaklukan dan Surosowan dan menguasai pelabuhan yang mendatangkan pedagang dari berbagai negara tersebut.

"Di sini memang lebih menggambarkan tokohnya itu Sultan Hasanudin. Saat itu VOC ingin menguasai pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan itu karena potensinya, tapi di tangan beliau VOC tetap kalah karena adanya perlawanan," ujarnya. 

Tarian yang berlangsung selama 25 menit itu menggambarkan empat adegan. Di mana, adegan pertama menjelaskan klimaks perihal awal mula penamaan pelabuhan Karangantu saat guci yang dibawa pedagang dari China pecah lantaran menabrak karang dan seketika keluarlah hantu dari dalam guci-guci. 

"Adegan kedua kita gambarkan kerukunan, kebersamaan, kegotongroyongan masyarakat Banten. Sedangkan adegan ketiga menggambarkan perlawanan masyarakat Banten terhadap VOC, dan adegan keempat menggambarkan keagungan Surosowan itu sendiri," ujarnya. 

Dari penampilan tarian ini, Ronald berharap masyarakat secara umum, khususnya generasi muda dapat melihat Banten yang memiliki sejarah panjang yang harus tetap dijaga keagungannya hingga nanti. 

"Mudah-mudahan masyarakat yang menonton saat melihat gerakan ini akan melihat sisi ceritanya. Imbasnya, anak muda harus tahu, tradisi tidak akan mati sampai kapanpun, tapi modernitas akan hilang seiring waktu," tandasnya.(Rus)

 

Yogi Triandono

Pria asal Teluk Naga, Kabupaten Tangerang ini memulai karir jurnalistik di Banten Hits. Dia menekuni dunia jurnalistik sesuai disiplin ilmu yang diperoleh semasa kuliah di Universitas Budi Luhur. Yogi juga memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap dunia seni dan sastra.

Ayoo Berlangganan Berita Kami