PegiPegi
id

"Ngaseuk" di Festival Baduy, Pemkab Ajak Masyarakat Jaga Kearifan Lokal

By  Des 21, 2017 | 10:40
Ngaseuk. Kegiatan bercocok tanam secara tradisional yang hingga kini masih dilakukan oleh masyarakat Baduy. (Foto: Istimewa)

Lebak - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak menggelar Festival Baduy 2017 yang berlangsung di Desa Bojongmenteng, Kecamatan Leuwidamar, Rabu (20/12/2017). Salah satu acara di festival tersebut yakni "Ngaseuk" kacang kedelai yang diikuti oleh ratusan peserta.

Ngaseuk merupakan cara bercocok tanam yang dilakukan masyarakat suku Baduy yang sampai saat ini masih dipertahankan. Proses bertani dengan cara tradisional yang tak hilang meski di tengah pesatnya teknologi ini menjadi salah satu kearifan lokal yang harus dijaga.

"Salah satu kearifan di era sekarang ini masyarakat Baduy masih berpegang teguh pada prinsip dan keyakinannya," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak, Dede Jaelani yang juga ikut kegiatan Ngaseuk.

Prinsip masyarakat Baduy; “Gunung teu meunang di lebur, lebak teu meunang di rusak” (gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dihancurkan) seyogianya menjadi rujukan dan pembelajaran semua pihak dalam menata, mengatur dan mengimplementasikan tata kelola sumber daya alam agar mampu memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat.

"Kabupaten Lebak diciptakan Tuhan dengan karakteristik yang unik dengan sejuta potensi kekayaan alam dan kultur budaya agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Sektor pariwisata sambung Dede menjadi tumpuan besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi di tingkat Nasional, tidak terkecuali di Provinsi Banten. Sebagai salah satu kabupaten yang mempunyai keunggulan pariwisata, dua di antara 7 Wonder of Banten berada di Lebak akan terus didorong untuk mendukung sektor pariwisata lainnya.

"Ada 23 Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) yang telah ditetapkan sebagai destinasi wisata. Ini akan bertambah seiring dengan adanya ODTW baru, yang telah dan akan kita buka, salah satunya Pantai Seupang di Sawarna Timur Bayah," ungkapnya.

Proses Ngaseuk dilakukan dengan cara melubangi tanah dengan media tongkat kayu yang ujungnya telah diruncingkan. Pada umumnya, kegiatan ini dilakukan secara bergotong-royong, terutama untuk menggarap lahan huma milik lembaga adat (jaro tangtu dan jaro dangka).(Nda)

Ayoo Berlangganan Berita Kami




Hotel Murah di Medan

Berita Populer

Error: No articles to display